Saturday, August 22, 2020

Hijriah, Awal Kebangkitan Umat Muslim


Lembaran sejarah umat Islam tempo dulu telah mencatat masa-masa kejayaan dan kegemilangan yang diraih kaum muslimin. Namun demikian banyak peristiwa mengharukan turut mewarnai perjalanan hidup mereka. Begitu pula pengorbanan, kegigihan dalam menegakkan agama Allah, peperangan melawan musuh-musuh Allah dan lain sebagainya, turut juga menghiasi sepak terjang perjuangan mereka.

Di antara sekian banyak peristiwa bersejarah dan paling berpengaruh bagi perkembangan dakwah Islamiyyah adalah hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah menuju Madinah Munawwarah. Kita sebagai kaum muslimin yang hidup pada masa kemunduran umat Islam saat ini, seharusnya menjadikan peristiwa hijrah sebagai momentum untuk bangkit dari keterpurukan dalam berbagai bidang. Peristiwa hijrah seyogyanya menjadi pelecut bagi kita untuk meraih kembali kejayaan dan kegemilangan yang selama beberapa abad terakhir ini direbut oleh bangsa-bangsa lain.

Semenjak dimulainya dakwah Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama keluarga dan para sahabatnya seringkali menghadapi berbagai macam rintangan dan ancaman dari orang-orang kafir di Makkah. Namun mereka tetap tabah dan tegar menebarkan dakwah dengan penuh kesabaran. Sampai akhirnya Allah ta’ala memberikan pertolongan dan kemudahan, yaitu dengan perintah hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Peristiwa hijrah itu merupakan akhir dari masa yang penuh rintangan dan kesulitan serta titik awal dari masa keemasan dan kegemilangan bagi dakwah Islam. Dari titik itu, cahaya kebenaran Islam semakin bersinar terang, menyinari kegelapan dan melampaui segala macam penghalang.

Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah, di awal-awal dakwah, beliau diperintahkan Allah untuk menyampaikan dakwah tanpa peperangan. Beliau berdakwah secara terang-terangan, setelah sebelumnya diperintahkan berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Suatu ketika beliau berjalan di tengah-tengah beberapa orang musyrik Arab yang sedang berkumpul di suatu tempat seraya mengatakan:

“Wahai umat manusia, katakanlah bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, niscaya kalian akan beruntung.”

Beliau menyeru kepada sikap adil, berbuat baik dan akhlak-akhlak mulia lainnya, dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dakwah beliau disambut beberapa orang yang akhirnya masuk Islam, seperti sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Bilal dan lain-lain. Akan tetapi sebagian besar masyarakat ketika itu masih tetap dalam kekufuran. Orang-orang kafir yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang secara membabi buta menyakiti, menyiksa, mengolok-olok dan menghina Rasulullah dan para sahabatnya. Ketika penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukan orang-orang kafir semakin bertambah berat, beberapa sahabat memutuskan untuk berhijrah ke Habasyah atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berjumlah sekitar delapan puluh orang, di antaranya adalah Utsman bin Affan dan Ja’far bin Abi Thalib.

Dalam satu kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan beberapa orang suku Khazraj dari kota Yatsrib yang sedang mengunjungi Ka’bah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kesempatan itu untuk mendakwahkan Islam kepada mereka dan mereka pun menyatakan diri masuk Islam. Bahkan pada tahun berikutnya jumlah orang-orang suku khazraj yang masuk Islam semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah mengutus dua sahabat beliau, Abdullah bin Ummi Maktum dan Mush’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhuma untuk pergi bersama mereka ke kota Yatsrib untuk mengajarkan al-Qur’an kepada mereka dan mendakwahkan Islam kepada beberapa orang dari suku Khazraj yang belum masuk Islam.

Ketika jumlah kaum muslimin yang siap menegakkan agama Allah di Yatsrib semakin bertambah banyak, Allah memerintahkan umat Islam di Makkah untuk berhijrah menuju kota Yatsrib atau yang dikenal kemudian dengan sebutan kota Madinah. Para sahabat Nabi lalu berbondong-bondong melaksanakan perintah-Nya.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat tidaklah melarikan diri dari orang-orang musyrik. Bukan pula bentuk sikap putus asa dari kondisi yang terjadi. Hijrah beliau juga tidak bertujuan untuk mencari ketenaran, pangkat dan kekuasaan di Kota Madinah. Karena sewaktu di Makkah, beliau pernah didatangi oleh para pemuka dan pimpinan Makkah seraya mengatakan kepada beliau:

“Jika dakwah Islam yang engkau lakukan bertujuan mendapatkan harta benda, maka kami akan mengumpulkan harta benda kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami, dan jika engkau bertujuan memperoleh kekuasaan maka kami akan menjadikanmu sebagai penguasa.”

Hijrah Rasulullah juga tidak bertujuan untuk mencari ketenangan dan kenyamanan hidup di Madinah. Keyakinan beliau adalah bahwa apa yang beliau bawa merupakan dakwah kebenaran dan risalah petunjuk yang harus dilaksanakan sesuai perintah Allah. Karenanya, ketika paman beliau Abu Thalib datang meminta beliau untuk tidak menghalang-halangi orang-orang kafir menyembah berhala-berhala mereka, beliau mengatakan dengan tegas:

“Demi Allah wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah yang aku lakukan, pasti aku tidak akan mau meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Peristiwa Hijrah Rasulullah dan para sahabatnya adalah petunjuk bagi kita bahwa kemusyrikan, kekufuran, kezaliman dan kebatilan, sekuat dan sebesar apapun, pasti pada akhirnya akan terperosok ke dalam jurang kehancuran. Sebaliknya, kebenaran pasti suatu saat akan menemukan jalan kesuksesan dan pasti akan berhasil mengibarkan panji-panji kemenangan. Karena Allah ta’ala telah menjanjikan kemenangan gemilang kepada kaum mu’minin dan telah menjadikan di balik kesukaran pasti terdapat jalan keluar, dan di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat” (Surat Ghafir: 51)

0 comments:

Post a Comment