Tasharruf

Donasi

Siswa Yatim Piatu

Pendidikan adalah salah satu hak bagi semua warga negara Indonesia. Sedikit rezeki yang anda bagikan adalah kebahagiaan tak terkira bagi mereka

Donasi Sekarang
Feature Cause

Feed the Poor

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Donate Now
Feature Cause

Save Humanity

To Help Them Survive

Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessmen

Donate Now

Sedekah adalah pahalanya tiada berputus. Mari Berbagi

  • Bersedekah membuat kita bahagia.

  • Bersedekah membuat badan lebih sehat.

  • Bersedekah meningkatkan kerjasama dan koneksi/jaringan sosial

  • Bersedekah meningkatkan rasa syukur

  • Bersedekah itu menular

Info Terbaru

Wednesday, December 30, 2020

Eksistensi Jamiyyah NU pada Zaman Penjajahan

Nahdlatul Ulama (NU) dalam setiap langkahnya selalu mengutamakan kepentingan bangsa, negara dan senantiasa dilandasi oleh dasar sharī'at Islam dan nilai-nilai ke-Islam-an, juga didasari atas nilai-nilai ke-Indonesia-an dan semangat nasionalisme yang tinggi, hal ini dapat kita lihat bagaimana latar belakang Nahdlatul Ulama ini lahir, bagaimana peranannya yang begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan keutuhan NKRI. NU pimpinan KH. Hasyim Asy'ari sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme yang berdasarkan atas syari'at Islam 'alā Ahl al-Sunnah wal al-Jamā'ah. 

Peranan Nahdlatul Ulama pada masa penjajahan Belanda dapat dilihat pada keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-2 di Banjarmasin pada tahun 1936, yang memutuskan bahwa kedudukan Hindia Belanda (Indonesia) sebagai Dār al-Salām, yang menegaskan keterikatan Nahdlatul Ulama dengan nusa-bangsa. 

Meskipun disadari peraturan yang berlaku tidak menggunakan Islam sebagai dasarnya, akan tetapi Nahdlatul Ulama tidak mempersoalkan, karena yang terpenting adalah umat Islam dapat melaksanakan syariat agamanya dengan bebas dan aman. 

Pandangan Nahdlatul Ulama bahwa perjuangan jihad ulama dalam mengusir penjajah Belanda sebenarnya adalah tuntunan ajaran agama Islam yang harus di- laksanakan setiap umat-Nya sebagai bentuk manivestasi rasa syukur terhadap Allah yang Mahakuasa. 

Jihad yang dilakukan oleh ulama dan santrinya ialah jihad membela tanah air, sebagai bentuk cinta tanah air (ḥubb al-waṭan) yang dimaknai sebagai jihād fī sabīlillāh. 

Karena upaya mempertahankan dan me- negakkan negara Republik Indonesia dalam pandangan hukum Islam me- rupakan bagian dari kewajiban agama yang harus dijalankan umat Islam.

Menurut KH. Hasyim Asy'ari, jihad merupakan satu amalan besar dan penting dalam Islam dengan keutamaannya yang sangat banyak sekali, tentunya menjadi kewajiban seorang muslim untuk melaksanakanya bila suatu saat diserang oleh orang kafir. Oleh karena itu menurut KH. Hasyim Asy'ari dalam konteks melawan penjajah Belanda, memberikan fatwa jihad mempertahankan tanah air Indonesia hukumnya wajib atas seluruh orang yang berada di wilayah negara Indonesia yang diserang musuh penjajah kafir Belanda, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.“ QS. al-Baqarah: 190

Dari dasar al-Qur'an ini maka Nahdlatul Ulama (NU) bersepakat bahwa jihad memerangi penjajah Belanda wajib hukumnya, disinilah pimpinan NU terutama KH. Hasyim Asyari sebagai komandan organisasi NU ikut mendukung upaya kemerdekaan dengan menggerakkan rakyat melalui fatwa jihad, 

Hasilnya pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy'ari dan sejumlah ulama di kantor NU Jawa Timur mengeluarkan keputusan resolusi jihad itu. Karena itulah KH. Hasyim Asy'ari diancam hendak ditangkap Belandal, namun KH. Hasyim Asy'ari tidak bergeming, dia memilih bertahan mendampingi laskar Ḥizbullāh dan Sabīlillāh melawan penjajah. Bahkan ketika Bung Tomo meminta KH. Hasyim mengungsi dari Jombang, Kiai Hasyim berkukuh bertahan hingga titik darah penghabisan, hingga muncul sebuah kaidah (rumusan masalah yang menjadi hukum) populer di kalangan kelompok tradisional NU; ḥubbu al-waṭan min al-imān (mencintai tanah air adalah bagian dari iman).

Semangat dakwah anti kolonialisme sudah melekat pada diri KH. Hasyim sejak belajar di Makkah, ketika jatuhnya dinasti Ottoman di Turki. KH. Hasyim pernah mengumpulkan kawan-kawannya, lalu berdoa di depan Multazam, berjanji menegakkan panji-panji keislaman dan melawan berbagai bentuk penjajahan.

Sikap anti penjajahan juga sempat membawa KH. Hasyim masuk bui ketika masa penjajahan Jepang. 

Waktu itu, kedatangan Jepang disertai kebudayaan Saikerei yaitu menghormati Kaisar Jepang Tenno Heika dengan cara membungkukkan badan 90 derajat menghadap ke arah Tokyo setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Budaya itu wajib dilakukan penduduk tanpa kecuali, baik anak sekolah, pegawai pemerintah, kaum pekerja dan buruh, bahkan di pesantren-pesantren. 

Menurut KH. Hasyim Asy'ari, selain kepada Allah hukumnya haram, sekalipun terhadap Kaisar Tenno Heika yang katanya keturunan Dewa Amaterasu Dewa Langit. 

Akibat penolakannya itu, pada akhir April 1942, KH. Hasyim Asyari yang sudah berumur 70  tahun  dijebloskan  ke dalam  penjara di  Jombang. Kemudian dipindah ke Mojokerto, lalu ke penjara Bubutan Surabaya. Selama dalam tawanan Jepang, Kiai Hasyim disiksa hingga jari-jari kedua tangannya remuk tak lagi bisa digerakkan.

Itulah pemikiran NU yang sangat gigih menentang segala bentuk penjajahan hukumnya wajib karena perintah agama, hal ini sejalan dengan garis perjuangan ulama-ulama pendahulunya yang senantiasa memberikan hukum wajib jihad untuk mengusir Belanda.

Seluruh penduduk berkewajiban mempertahankan wilayahnya semaksimal mungkin. Bahkan, bila terpaksa siapapun tanpa terkecuali baik anak-anak, perempuan, faqir miskin wajib ikut jihad sesuai dengan kemampuannya masing-masing. 

Sumber: Jurnal Walisongo



Saturday, August 22, 2020

Hijriah, Awal Kebangkitan Umat Muslim


Lembaran sejarah umat Islam tempo dulu telah mencatat masa-masa kejayaan dan kegemilangan yang diraih kaum muslimin. Namun demikian banyak peristiwa mengharukan turut mewarnai perjalanan hidup mereka. Begitu pula pengorbanan, kegigihan dalam menegakkan agama Allah, peperangan melawan musuh-musuh Allah dan lain sebagainya, turut juga menghiasi sepak terjang perjuangan mereka.

Di antara sekian banyak peristiwa bersejarah dan paling berpengaruh bagi perkembangan dakwah Islamiyyah adalah hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah menuju Madinah Munawwarah. Kita sebagai kaum muslimin yang hidup pada masa kemunduran umat Islam saat ini, seharusnya menjadikan peristiwa hijrah sebagai momentum untuk bangkit dari keterpurukan dalam berbagai bidang. Peristiwa hijrah seyogyanya menjadi pelecut bagi kita untuk meraih kembali kejayaan dan kegemilangan yang selama beberapa abad terakhir ini direbut oleh bangsa-bangsa lain.

Semenjak dimulainya dakwah Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama keluarga dan para sahabatnya seringkali menghadapi berbagai macam rintangan dan ancaman dari orang-orang kafir di Makkah. Namun mereka tetap tabah dan tegar menebarkan dakwah dengan penuh kesabaran. Sampai akhirnya Allah ta’ala memberikan pertolongan dan kemudahan, yaitu dengan perintah hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Peristiwa hijrah itu merupakan akhir dari masa yang penuh rintangan dan kesulitan serta titik awal dari masa keemasan dan kegemilangan bagi dakwah Islam. Dari titik itu, cahaya kebenaran Islam semakin bersinar terang, menyinari kegelapan dan melampaui segala macam penghalang.

Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah, di awal-awal dakwah, beliau diperintahkan Allah untuk menyampaikan dakwah tanpa peperangan. Beliau berdakwah secara terang-terangan, setelah sebelumnya diperintahkan berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Suatu ketika beliau berjalan di tengah-tengah beberapa orang musyrik Arab yang sedang berkumpul di suatu tempat seraya mengatakan:

“Wahai umat manusia, katakanlah bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, niscaya kalian akan beruntung.”

Beliau menyeru kepada sikap adil, berbuat baik dan akhlak-akhlak mulia lainnya, dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dakwah beliau disambut beberapa orang yang akhirnya masuk Islam, seperti sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Bilal dan lain-lain. Akan tetapi sebagian besar masyarakat ketika itu masih tetap dalam kekufuran. Orang-orang kafir yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang secara membabi buta menyakiti, menyiksa, mengolok-olok dan menghina Rasulullah dan para sahabatnya. Ketika penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukan orang-orang kafir semakin bertambah berat, beberapa sahabat memutuskan untuk berhijrah ke Habasyah atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berjumlah sekitar delapan puluh orang, di antaranya adalah Utsman bin Affan dan Ja’far bin Abi Thalib.

Dalam satu kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan beberapa orang suku Khazraj dari kota Yatsrib yang sedang mengunjungi Ka’bah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kesempatan itu untuk mendakwahkan Islam kepada mereka dan mereka pun menyatakan diri masuk Islam. Bahkan pada tahun berikutnya jumlah orang-orang suku khazraj yang masuk Islam semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah mengutus dua sahabat beliau, Abdullah bin Ummi Maktum dan Mush’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhuma untuk pergi bersama mereka ke kota Yatsrib untuk mengajarkan al-Qur’an kepada mereka dan mendakwahkan Islam kepada beberapa orang dari suku Khazraj yang belum masuk Islam.

Ketika jumlah kaum muslimin yang siap menegakkan agama Allah di Yatsrib semakin bertambah banyak, Allah memerintahkan umat Islam di Makkah untuk berhijrah menuju kota Yatsrib atau yang dikenal kemudian dengan sebutan kota Madinah. Para sahabat Nabi lalu berbondong-bondong melaksanakan perintah-Nya.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat tidaklah melarikan diri dari orang-orang musyrik. Bukan pula bentuk sikap putus asa dari kondisi yang terjadi. Hijrah beliau juga tidak bertujuan untuk mencari ketenaran, pangkat dan kekuasaan di Kota Madinah. Karena sewaktu di Makkah, beliau pernah didatangi oleh para pemuka dan pimpinan Makkah seraya mengatakan kepada beliau:

“Jika dakwah Islam yang engkau lakukan bertujuan mendapatkan harta benda, maka kami akan mengumpulkan harta benda kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami, dan jika engkau bertujuan memperoleh kekuasaan maka kami akan menjadikanmu sebagai penguasa.”

Hijrah Rasulullah juga tidak bertujuan untuk mencari ketenangan dan kenyamanan hidup di Madinah. Keyakinan beliau adalah bahwa apa yang beliau bawa merupakan dakwah kebenaran dan risalah petunjuk yang harus dilaksanakan sesuai perintah Allah. Karenanya, ketika paman beliau Abu Thalib datang meminta beliau untuk tidak menghalang-halangi orang-orang kafir menyembah berhala-berhala mereka, beliau mengatakan dengan tegas:

“Demi Allah wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah yang aku lakukan, pasti aku tidak akan mau meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Peristiwa Hijrah Rasulullah dan para sahabatnya adalah petunjuk bagi kita bahwa kemusyrikan, kekufuran, kezaliman dan kebatilan, sekuat dan sebesar apapun, pasti pada akhirnya akan terperosok ke dalam jurang kehancuran. Sebaliknya, kebenaran pasti suatu saat akan menemukan jalan kesuksesan dan pasti akan berhasil mengibarkan panji-panji kemenangan. Karena Allah ta’ala telah menjanjikan kemenangan gemilang kepada kaum mu’minin dan telah menjadikan di balik kesukaran pasti terdapat jalan keluar, dan di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat” (Surat Ghafir: 51)

Saturday, January 25, 2020

Tegaskan Jati Diri Sebagai Khodimul Ummah, Rijalul Ansor Sidoarjo Ngaji ke Mall

Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Sidoarjo terus bergerak mensyiarkan amaliyah Aswaja An-Nahdliyah di tengah masyarakat Sidoarjo. Kegiatan yang biasanya dilaksanakan di musholla ataupun masjid, kali ini diselenggarakan di salah satu pusat perbelanjaan.

Dengan mengangkat tema "Darah Haid, Nifas, dan Istihadhoh dalam Kajian Fiqih dan Tinjauan Medis" Rijalul Ansor Sidoarjo menyelenggarakan Ngaji Goes To Mall pada hari Jumat malam (24/1) di Transmart Sidoarjo. Kegiatan yang diisi oleh Gus Zakiyul Umam pengasuh kajian MDS Rijalul Ansor Sidoarjo dan Raz Fides Umi, salah satu dokter kandungan di RSI Siti Hajar Sidoarjo tersebut ramai oleh pengunjung. Tak hanya dari anggota Ansor dan keluarganya, bahkan dari pengunjung mall pun banyak yang turut nimbrung mengikuti pengajian.

Ketua MDS Rijalul Ansor Sidoarjo, Muhammad Syifa' mengatakan kegiatan ini diadakan untuk mengajak seluruh masyarakat bersama-sama mensyiarkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah dan menebarkan ilmu di mana pun berada. Termasuk mengaji di tempat umum seperti mall.

"Pelaksanaan ngaji ke mall ini bertujuan untuk mengembangkan rutinitas kegiatan Rijalul Ansor ke dalam ruang publik, guna dapat diserap oleh berbagai kalangan masyarakat. Sehingga semua orang dapat turut serta memperoleh ilmu melalui kegiatan ngaji ini", ujar Syifa'. Dirinya juga berharap Rijalul Ansor sebagai _Khodimul Ummah_ (pelayan umat) dapat istiqomah mengaji bersama para jamaah.

Hal senada juga diungkapkan oleh ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Rizza Ali Faizin. Bahwa Rijalul Ansor sebagai Khodimul Ummah harus tampil beda dalam memberikan wacana keilmuan agama di kalangan masyarakat, sehingga keberadaan Ansor dapat diterima semua khalayak umum.

"Dengan diadakannya Ngaji Goes To Mall ini, Rijalul Ansor Sidoarjo memberikan suasana dakwah yang berbeda. Harapannya supaya semua orang yang biasanya ngaji maupun tidak sekalipun, turut bersama mendapatkan ilmu agama", kata Rizza. Anggota DPRD Sidoarjo tersebut juga mengungkapkan jika sudah seharusnya Rijalul Ansor Sidoarjo sebagai Khodimul Ummah memberikan contoh di kalangan masyarakat dengan nuansa dakwah yang menarik dan tampil beda, sehingga diminati banyak kalangan.

Kegiatan Rijalul Ansor Sidoarjo Ngaji Goes To Mall itu terselenggara berkat kerjasama yang baik antara PC GP Ansor Sidoarjo dengan LKNU, RSI Siti Hajar dan pihak manajemen Transmart. Ke depan, PC GP Ansor Sidoarjo juga akan meneruskan kegiatan yang baik ini di berbagai fasilitas umum dan instansi lainnya.

(Bagus Sudjatmiko)

Monday, November 11, 2019

Kembali Menjadi Pimpinan, Zanuar Riza Siap Lanjutkan Kepengurusan Ansor Gedangan


Konferensi Anak Cabang (Konferancab) GP Ansor Gedangan telah selesai dilaksanakan pada hari Ahad (10/11) kemarin pukul 17.00 waktu setempat. Kegiatan tersebut berakhir dengan dipilihnya kembali H. Zanuar Riza sebagai ketua PAC GP Ansor Gedangan masa khidmat 2019-2021.

Terpilihnya Zanuar Riza (38) sebagai ketua PAC GP Ansor Gedangan masa khidmat 2019-2021 melalui proses aklamasi. Pasalnya, 14 dari 15 Pimpinan Ranting GP Ansor se-kecamatan Gedangan merekomendasikan nama Zanuar Riza sebagai calon ketua. Sedangkan 1 ranting lainnya merekomendasikan nama Misbakhul Munir sebagai kandidat lainnya. Maka secara otomatis Zanuar Riza kembali menjabat sebagai ketua PAC GP Ansor Gedangan masa khidmat 2019-2021 setelah proses demisioner.

Direkomendasikannya nama Zanuar Riza oleh hampir seluruh ranting karena kinerjanya yang baik sebagai ketua PAC GP Ansor Gedangan periode 2017-2019. Dan hal itu di luar dugaan Zanuar Riza. Sebab, pria asal desa Wedi kecamatan Gedangan itu telah menyampaikan pada seluruh pimpinan ranting supaya melakukan kaderisasi dan regenerasi pada PAC GP Ansor Gedangan melalui pergantian ketua dalam Konferensi Anak Cabang (Konferancab).

"Padahal sudah saya sampaikan, jika kaderisasi dan regenerasi penting untuk keberlanjutan organisasi ini. Tapi ternyata para pimpinan ranting Ansor bersatu dan mendapuk saya kembali. Semoga pilihan mereka tidak salah," ujar Zanuar Riza.

Menyikapi amanah yang kembali diberikan, Zanuar Riza mengingatkan kepada seluruh kader terutama para pengurus PAC Ansor Gedangan, jika dirinya akan lebih tegas dan "galak" dalam memimpin ke depan. Berbagai program yang sukses terlaksana kiranya tak perlu dibanggakan, dan berbagai kekurangan diperbaiki. Dirinya juga berharap, jika kembali menjadi ketua, supaya para kader dan pengurus PAC Gedangan tidak kian melemah kinerjanya namun justru kian meningkat. Ia juga berterimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan, dan atas partisipasi semua pihak pada periode sebelumnya hingga terselenggaranya Konferancab 2019.

Gedangan, 11 Nopember 2019

Bagus Sudjatmiko

Akhiri Masa Khidmat, PAC GP Ansor Gedangan Laksanakan Konferancab


Berakhirnya periode kepengurusan PAC GP Ansor Gedangan pada tahun 2019 ini, membuat para pengurusnya segera berbenah. Mereka melaksanakan Konferensi Anak Cabang Gedangan pada hari Ahad, (10/11) di GOR Soerokromo desa Semambung kecamatan Gedangan, Sidoarjo.

Acara yang diselenggarakan mulai Ahad pagi dan rencananya selesai pada sore hari tersebut diikuti oleh 4 orang delegasi tiap ranting dari 15 desa se-kecamatan Gedangan. Serta dihadiri oleh Forkopimka, perwakilan MWC NU Gedangan, banom, dan para tamu undangan lainnya.

Ketua Panitia Konferancab, Ali Mahrus (37) mengatakan, bahwa kegiatan itu dilaksanakan sebagai bentuk tertib administrasi sesuai PD/PRT-PO GP Ansor. Dan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) PAC GP Ansor Gedangan masa khidmat 2017-2019. Serta memilih nahkoda baru periode berikutnya. "Kami berharap bisa memperoleh pemimpin baru yang lebih baik, dan dapat melanjutkan estafet perjuangan yang telah ada," imbuhnya.

Sementara itu ketua PAC GP Ansor Gedangan yang saat ini masih menjabat, Zanuar Riza (38) ketika dikonfirmasi juga menyampaikan bila dirinya berharap dapat mencari sosok pemimpin periode berikutnya. Ia dan jajaran pengurusnya telah bekerja keras selama dua tahun sejak 2017-2019, namun masih terdapat beberapa kekurangan program yang belum terlaksana.

Meski terdapat wacana untuk kembali menjadi ketua, Zanuar Riza lebih suka jika ada kader yang menjadi pemimpin baru masa khidmat 2019-2021. "Kader Ansor Gedangan sudah banyak, dan baik kualitasnya. Sehingga perlu adanya kaderisasi dan regenerasi dalam berorganisasi," tuturnya.

Selain pelaksanaan konferensi, PAC GP Ansor Gedangan juga telah melaksanakan kegiatan lainnya sebagai acara Pra-Konferensi beberapa waktu yang lalu. Seperti ziarah makam auliya', lomba Akreditasi, Gowes Kirab Santri, serta lomba paduan suara dan khotib.

Gedangan, 10 Nopember 2019
(Bagus Sudjatmiko)

Tuesday, November 5, 2019

Tingkatkan Kompetensi Kader Melalui Pelatihan Jurnalis


PAC GP Ansor kecamatan Gedangan sebagai salah satu Banom MWC NU Gedangan, sangat peduli dengan kompetensi kader. Karena di zaman milenial ini, kader Ansor tidak hanya dituntut mampu mengelola organisasi dengan baik, namun juga pandai ber-administrasi dengan baik pula.

Mengingat peran penting itulah, PAC GP Ansor Gedangan mendelegasikan dua kadernya, Muhsin Ridlo dan Bagus Sudjatmiko dalam Pelatihan Jurnalisme Digital NU Milenia. Sehingga kader Ansor diharapkan tidak hanya unggul dalam gerakan, namun juga harus handal dalam tulisan.

Acara tersebut diselenggarakan oleh PC LTN NU bekerjasama dengan NUCARE LAZISNU Sidoarjo pada hari Ahad (3/11) kemarin, dan bertempat di Aula Kantor PCNU Sidoarjo. Acara itu dimulai pada Ahad pagi dan selesai hingga sore hari.

Pelatihan jurnalistik kali ini sejatinya adalah Diklat lanjutan dari pelatihan yang dilaksanakan beberapa bulan sebelumnya oleh NUCARE LAZISNU Sidoarjo. Hanya saja kali ini penyelenggara utamanya adalah PC LTN NU Sidoarjo. Sementara NUCARE LAZISNU Sidoarjo sebagai penyelenggara _back-up_, sebagaimana yang dituturkan oleh Yulirianto (43), salah satu panitia dan pengurus NUCARE LAZISNU Sidoarjo. "Sedangkan untuk para peserta, kami dari LAZISNU Sidoarjo mengikutsertakan para alumni diklat jurnalistik sebelumnya, sebagai diklat lanjutan yang perlu diikuti para alumni. Serta mengajak para kader dari Banom NU lainnya yang didelegasikan oleh MWC NU setempat sebagai peserta," tambah Yulirianto.

Kegiatan kali ini diikuti oleh lebih banyak peserta daripada diklat sebelumnya. Dan dihadiri beberapa wartawan dan penulis senior sebagai pemateri, seperti M. Subhan, Yupiter Sulifan, Rofii Boenawi, dan banyak lagi. Pada acara tersebut juga pembagian sertifikat Diklat Jurnalistik sebelumnya dan trofi para juara kegiatan Hari Santri Nasional Sidoarjo 2019.

Dengan pendelegasian kader dalam pelatihan jurnalistik, diharapkan mampu mendongkrak potensi kinerja mereka dalam dunia tulis menulis, selain dalam aktivitas tindakan dunia struktural organisasi.

(Bagus Sudjatmiko)

Rumah Warga Kebakaran, YDSNU Salurkan Bantuan

Tim YDSNU menyalurkan bantuan kepada Nisful Laili (tengah) langsung di area bekas kebakaran (3/11).
Musibah kebakaran menimpa keluarga Nisful Laili (40), warga RT 01 RW 02 desa Keboan Anom kecamatan Gedangan Sidoarjo. Rumahnya habis dilahap si jago merah pada Sabtu (2/11) karena korsleting listrik. Akibat kejadian itu, rumah korban hanya tersisa rangka tembok bangunan dan teras depan. Beruntung tidak ada korban jiwa. Suwandi (64), ayah dari Nisful Laili beserta Hidayatur Romadhani (11), putra Nisful Laili berhasil selamat.

Menindaklanjuti peristiwa itu, tim Yayasan Dana Sosial Nurul Ummah (YDSNU) mengunjungi lokasi pada hari Ahad pagi usai kejadian (3/11). Tim YDSNU yang hadir pada saat kunjungan dikoordinir langsung oleh ketua YDSNU, Achmad Muzayyin (40) dan H. Zanuar Riza (38) ketua PAC GP Ansor Gedangan, serta beberapa pengurus YDSNU dan pengurus PAC GP Ansor Gedangan yang lainnya.

Saat kunjungan, tim YDSNU ditemui langsung oleh korban, Nisful Laili beserta sanak kerabatnya. Tim YDSNU juga turun meninjau lokasi kebakaran yang hangus dilalap api. Serta memberikan uluran bantuan kepada Nisful Laili dan keluarganya.

"Saya mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan alumni IPNU Gedangan dan YDSNU, yang selalu istiqomah berjuang untuk umat. Semoga ikatan persaudaraan kita tetap terjalin selamanya," ujar Nisful terharu.

Rumah Korban Nisful Laili di Desa Keboan Anom kecamatan Gedangan yang terbakar api pada Sabtu (2/11). Hanya tersisa tembok bangunan dan teras depan
Ketua YDSNU, Achmad Muzayyin menuturkan jika Nisful Laili adalah rekanitanya saat sama-sama menjadi ketua PAC IPNU-IPPNU Gedangan tahun 2000-an silam. Selain memberikan bantuan tasharruf berupa uang, Achmad Muzayyin menjelaskan YDSNU juga akan membantu secara material untuk dapat membangun rumah Nisful yang telah terbakar. Dan membantu keluarga Nisful untuk dapat mengaktifkan perekonomiannya kembali. "Kami (YDSNU) akan selalu ingat dan membantu warga seperjuangan khususnya, juga sepenuh hati melayani umat secara umumnya," tambah Muzayyin.

Yayasan Dana Sosial Nurul Ummah (YDSNU) adalah lembaga sosial penghimpun dan penyalur Zakat, Infak, Shodaqoh (ZIS) yang didirikan oleh para alumni IPNU dan Kader Penggerak NU kecamatan Gedangan pada 10 Nopember 2014. Achmad Muzayyin yang saat ini menjabat sebagai ketua dan salah satu pendiri YDSNU, merupakan alumni ketua PAC IPNU Gedangan dan instruktur wilayah Kader Penggerak NU.

(Bagus Sudjatmiko)